Sabua Foundation: Perlu Sinergi Entaskan Kesenjangan Digital

 

Suasana Ujian Berbasis Online Siswa Mts. Nurul Huda Desa Mamuya (Foto: Tim Sabua)

Pada Bulan Maret kemarin, siswa Mts. Nurul Huda di Desa Mamuya, Kecamatan Galela harus menggelar tenda di wilayah hutan di pesisir tanjung demi bisa mengikuti ujian sekolah berbasis online yang diwajibkan oleh pemerintah. Hal ini dilakukan karena desa mereka belum terjangkau jaringan seluler. Beberapa relawan telah berupaya untuk menyediakan gadget yang dibutuhkan agar para siswa-siswi ini bisa mengikuti ujian melalui smartphone.

Fenomena ini menurut M. Guntur Cobobi, Direktur Umum Sabua Foundation, sebagai bukti jika ketertinggalan atau kesenjangan sektor digital di sebagian besar Maluku Utara dan Indonesia Timur pada umumnya masih sangat jauh. Hal ini secara langsung juga berpengaruh pada ketertinggalan di sektor pendidikan.

"Dari fakta ini kita bisa mengetahui kualitas infrastruktur kita yang tidak menunjang aktifitas digitalisasi, sebagaimana yang sudah lama berlangsung di Indonesia bagian Barat. Tingkat melek teknologi yang rendah seharusnya menjadi perhatian untuk diatasi, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Apalagi di masa COVID-19 ini, tidak ada pembelajaran tatap muka kan.." Ungkap alumnus Universitas Indonesia ini.

"Di saat pandemi, kebijakan belajar jarak jauh hanya bisa dicapai oleh siswa-siswi di Indonesia Barat yang notabene sudah terbiasa dengan penggunaan teknologi bagi proses pembelajaran, sementara di Indonesia Timur menurut data kami, hampir seluruhnya sekolah diliburkan, tidak ada proses belajar-mengajar sama sekali. Dampaknya apa? Jika seandainya sekolah diliburkan setahun atau bahkan dua tahun, maka generasi di Indonesia Timur akan tertinggal dua atau tiga tahun di belakang." Lanjutnya.

Menurut Gun, sapaan akrabnya, diperlukan sinergi antar semua pihak untuk segera fokus pada persoalan ini, sebab pendidikan adalah menyangkut masa depan anak bangsa, tidak boleh ada dikotomi dan rintangan apapun. Karena itu, pemerintah mulai dari pusat hingga tingkat desa perlu bersinergi, para pegiat di bidang ini juga perlu menyediakan tenaga dan pikiran.

"Pemerintah pusat perlu menyediakan platform khusus yang familiar digunakan, infrastruktur dasar yang mobile bisa sementara disediakan, pemerintah desa juga bisa menyediakan dana desa untuk merealisasikan konsep pembelajaran yang dapat diterapkan di masa pandemi ini. Sabua Foundation sebagai lembaga sukarela yang bergerak di bidang pendidikan juga saat ini sedang merampungkan gagasan berupa platform yang disimplifikasi untuk bisa digunakan oleh siswa dan tenaga pendidik di Indonesia Timur. Selain itu kami terus memberikan pendampingan kepada siswa-siswi di wilayah yang tertinggal agar bisa mengakses pengetahuan meskipun di masa pandemi. Tetapi kami memiliki tenaga dan anggaran yang terbatas, karena itu sinergi dari berbagai pihak sangat diperlukan.." Tutupnya.

(SFDMR)

Lebih baru Lebih lama